Selain persoalan persampahan, Agus juga memberikan apresiasi kepada sejumlah sekolah yang menerima penghargaan Adiwiyata 2026. Ia berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian, tetapi menjadi bagian dari gerakan membangun lingkungan yang bersih dan nyaman.
“Saya ucapkan selamat kepada SD, MI, SMP, MTs yang hari ini mendapat penghargaan Adiwiyata tahun 2026. Pastinya kami butuh bantuan lebih kuat lagi, menjadi gerakan bersama agar Temanggung lebih bersih dan lebih nyaman lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Barang Maschun Pribowo menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di wilayahnya tidak serta-merta terjadi. Langkah awal yang dilakukan adalah mengubah pola pikir masyarakat mengenai sampah.
Warga kemudian diarahkan untuk memilah sampah dari rumah masing-masing. Sampah yang telah dipilah selanjutnya diambil oleh petugas sebanyak dua kali dalam sepekan untuk dibawa ke TPS3R.
Di TPS3R, sampah kembali dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi pupuk, sedangkan sebagian dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang kemudian digunakan sebagai pakan ayam dan ikan lele. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan untuk dijual sebagai barang rongsok.
Bahkan, sampah organik yang telah melalui proses fermentasi juga dimanfaatkan sebagai media untuk pembibitan tanaman.
“Untuk sampah di desa kami setiap minggunya kurang lebih tiga ton. Sampah plastiknya dalam sebulan lebih dari satu ton,” jelas Maschun.
Penulis : Gujjih
Editor : Luthfi
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







